Oleh: hudaesce | 11/12/2010

Tradisi Muharrom

Boleh dibilang dibulan ini paling sangat beda diantara Bulan-bulan yang lain, banyak sekali Tradisi dan hal – hal yang (maaf) nyeleneh menurut pemahaman saya. Awalnya saya  menganggap Hal semacam itu tak lain hanyalah sebuah Tradisi Budaya kita (Jawa) yang dari saya juga tidak begitu terlalu memperdulikannya dan bahkan sudah hal kewajaran asalkan tidak terlalu jauh melenceng dari Norma Agama atau Syariat.

Namun, entah kenapa beberapa hari terakhir ini saya kayaknya agak risih juga. Tradisi-tradisi yang awal mulanya gak begitu aku permasalahkan, kini membuatku agak jengkel gara-gara dibulan ini banyak hal yang aku temuin janggal, aneh atau (maaf) bahkan nyeleneh menurut pemahaman saya.

Mungkin lebih baiknya aku akan sedikit Share cerita dan pengalamanku dihari menjelang Bulan Muharrom Tahun ini.

Mulanya beberapa hari yang lalu menjelang Pergantian tahun Baru Hijriyah. kebetulan waktu itu atap rumahku rusak dan bocor, langsung saja aku panggil tukang untuk memperbaikinnya.  Setelah pulang kerja ternyata hal yang seharusnya udah selesai diperbaiki  itu tadi, Ee…….,malahan sama sekali belum disentuh. dengan agak jengkel akupun mengkonfirmasikan kepada pak Tukangnya tu tadi, kenapa pekerjaan semacam itu tidak segera diselesaikan (maklum, akhir-akhir ini kan sering hujan deras, jadi bisa dibayangkan  kalau Hujan kayak gimana Rumahku jadinya dengan atap yang rusak dan bocor semacam itu). Kemudian Pak Tukang nya tadi memberi alasan yang menurutku agak gak masuk akal bahkan nyeleneh. bagaimana tidak, alasannya tu menurut Hitungan jawa hari itu (menjelang pergantian tahun) adalah jatuh pada weton kapitu yang dimana pada hari itu jika melakukan pekerjaan yang berhubungan diatas rumah/panjat memanjat akan disambar petir. Waduuw ……,Kok malah jadi kayak gini sih, ada acara sambar-menyambar segala. dan dia baru akan memperbaikinya esok harinya.

Akhirnya, dengan penuh kekecewaan aku terima saja alasannya pak tukang yang takut tersambar petir tu tadi  :lol:  dan selanjutnya, apa yang aku khawatirkan terjadi juga yaitu tepat pada malam harinya hujanpun turun dengan deras. yach….., rumahku serasa kayak Kolam lele. :cry:  ya sudahlah aku terima saja nasibku ini, dan emang kayaknya sang pencipta lagi ingin bercanda denganku.:mrgreen:

Ternyata Penderitaanku Dibulan Muharrom  gak berhenti disitu juga, tepat Hari Pertama Bulan Muharrom terpaksa aku harus menahan lapar seharian. penyebabnya bukan karena saya ikut-ikutan puasa, melainkan karena gak ada satupun penjual sayuran yang lewat dan semua para pedagang kebutuhan dapur  pun  juga tidak ada yang berjualan. So, Ibuku hari itu ya cuman masak nasi dengan lauk Mie Instan saja.  sialnya lagi, saya gak boleh makan mie Instan ma pak dokter gara-gara gangguan Lambung yang kian akut. ya udah, seharian cuman makan Roti za. Huuft…..,sekedar mau makan saja susahnya kayak zaman penjajahan jepang gini. 😦

Usut punya usut yang aku terima dari beberapa Orang yang aku tanyai kenapa pada hari itu banyak pedagang yang tidak jualan itu alasannya tak lain adalah  demi menghormati Bulan Muharrom atau tahun baru Hijriyah ini mereka diharuskan tidak berjualan, karena menurut Mitos yang aku terima jika mereka nekat berjualan maka ditahun kedepannya akan menjadi sial. Woouw…..,sampe segitunya ya, seandainya seluruh pasar mempunyai pemikiran semacam itu gimana jadinya ????? hhe 😆

dan satu hal lagi yang agak aneh nih, cuman dibulan inilah khususnya masyarakat Jawa melarang dan tidak mengadakan acara hajatan semacam pernikahan, khitanan bahkan membangun rumah. dan menurut keyakinan yang telah turun-menurun dan melekat di masyarakat bahwa bulan Muharrom ini adalah bulan yang keramat dan penuh bala (bencana).  dan hal Inilah yang membuat masyarakat tidak punya nyali untuk mengadakan suatu acara terutama hajatan dan acara pernikahan. kalau kita mencoba berkiblat pada Agama hal inikan sudah jauh melenceng  dari Syariat,  jadi teringat kata Pak Ustadz dulu bahwasanya Rosululloh SAW pernah bersabda ” Janganlah kamu mencela waktu , karena Allah itu yang mengatur silih bergantinya waktu.” (HR. Muslim)

Dari tulisan saya diatas kita bisa mengetahui bahwasanya Masyarakat kita (jawa) masih banyak yang kurang paham tentang pemahaman Syariat islam.

Saya berpendapat demikian bukannya saya orang yang pandai akan pemahaman agama dan terlalu fanatik akan hal  semacam itu. Namun, Disini yang saya inginkan hanyalah memperbaiki sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal. dan mari kita bersama-sama memperbaiki hal itu menuju pemurnian aqidah islam yang sebenarnya.

Sejujurnya saya pun suka tradisi/budaya jawa contohnya mungkin “Bancaan” atau mungkin yang lebih kita kenal dengan nama Syukuran, yang kadang menurut beberapa orang dianggap Bid’ah (sesat) tapi menurut saya itu masih masuk akal secara Syariat. karena menurut pengamatan saya hal semacam itu bagus secara sosial kemasyarakatan, Karena dalam tradisi semacam itu kita bisa berbagi dengan sesama dan secara gak langsung itu dapat menambah rasa persaudaraan dan persatuan ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat. dan bukankah hal semacam itu dianjurkan dalam agama manapun.

Sekarang bagaimana pendapat teman-teman akan hal ini, dan apakah disitu juga ada Ritual alias Tradisi Nyeleneh di Bulan Muharrom ini seperti yang saya alami kemaren ????

Silahkan Berbagi informasi dan ilmunya diKolom Komentar dibawah ini ya !!!:mrgreen:

Sayapun Mohon maaf apabila dalam tulisan saya ini terdapat kata-kata ataupun kalimat yang terkesan menyinggung perasaan dan menyakitkan hati.

source : ernestlee.webs.com


Responses

  1. (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!

    • (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!

      • (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!

      • (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!

      • (Maaf) izin mengamankan KELIMAAAX dulu. Boleh, kan?!

      • kalau tardisi muncak pas Muncak Pas Malam Satu Sura | Malam satu Muharram sperti ini; gimana?

      • Lah kalo seperti itu mah, aku setuju banget. . . . . . 😀
        **mentang-mentang gak dapat pertamaxxxx , seenaknya za terus gak menyisakan tuk yang lainnya.:mrgreen:

      • mas Alam mborong😛

  2. Good………. artikel

  3. Anas nunggu bubur suro.. hehehehe.. biasanya si dikasih sama tetangga sebelah..

    • Saya juga mau dong, Ntar kalo dikasih bagi-bagi kesaya ya Bang ya……, 😀

  4. ada, hanya saja, saya tidak ikut-ikutan soalnya, suka tanpa dalil…

    • Oooo…….,gitu ya Kang🙂

  5. Suatu perenungan yang Indah, terima kasih kawan…

    • Sama -Sama Bli Budi….,

  6. salam sobat
    tradisi muharam seperti itu tidak ada di S.A
    pasti seru dan meriah acaranya disini.

    • Salam juga sobat,
      Yaps…,pokoknya paling seru dan meriah deh disini,🙂

  7. Ya…itu memang fenomena biasa yang terjadi dalam masyarakat kita yang masih mempercayai adanya mitos maupun tradisi-tradisi yang tidak diajarkan dalam agama. Tugas dan tanggung jawab kita semua untuk mempelajari dan mulai menghapus sedikit demi sedikit mitos maupun tradisi-tradisi yang “nyeleneh” itu demi terpeliharanya ajaran agama yg benar-benar murni

    • Siap laksanakan !!!! 🙂

  8. Ditempat saya biasa saja mas. Dan menurut saya, Biarlah tradisi itu tetap ada.. Sebagai warisan budaya lokal.

    • Yaps….,saya mah setuju2 saja mas, asalakan jangan sampai keterlaluan kayak gitu. aku nih akhirnya yang jadi korbannya.

  9. Di tempat saya tidak ada tuh mas, maklum udah agak moderen gitu masyarakatnya,
    hehe,,😀

    • Alhamdulilah……,begitu ya,

  10. perpaduan islam dengan budaya jawa memang memunculkan tradisi unik😀

    • tul,betul,betul……, bukan hanya unik tapi sangat unik. 😀

  11. […] ya, kali ini saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Mas Abdul Malik Sholihin dan Mas Huda yang hari ini milad. Semoga ALLAH senantiasa memberikan keberkahan, kesuksesan, kebahagiaan, dan […]

    • Terimakasih dan syukron ya Kang, tuk Ucapan dan Do’a nya yang Indah buatku. Semoga ALLOH SWT membalas lebih dari yang enagkau berikan.🙂

  12. kalo di tempat saya mungkin ada tapi saya kurang perhatikan. ya acara2 seperti memang masih banyak terutama di daerah jawa ya. para ulama padahal sudah sering memberikan nasehat tapi masih banyak yang dukung ya…jadi ya begini dah jadinya

    • suatu hal yang telah mendarah daging tiu emang sulit tuk disembuhkan bang…,

  13. di tempat saya ada mas, tapi ya ga segitunya banget….🙂
    biasanya cuman kirab sama pengajian

    • kalo pengajian tu ya, setuju saya…., 🙂

  14. ya begitulah sob. tradisi..
    padahal rasulullah nggak pernah mengajarkan yang seperti itu..
    huh bingung euy >.<

    • Ya udahlah mas,dimulai dari diri kita za dulu. yang penting kita gak usah ikut2an kayak gitu 😀

  15. tradisi ini lebih dekat pada kejawen
    makin ke barat pulau Jawa makin berkurang tradisi seperti ini🙂

    • kalo makin ketimur gimana bang ??? 😀

  16. Kalo yg namanya tradisi itu biasanya susah utk dihilangkan, meskipun bagi sbagian org menilai kalo hal itu agak nyleneh, tp ttp aja itu adalah “tradisi”. apalagi kalo udh mengakar dari dulunya…

    toh, Indonesia itu bs terkenal kaya, diantaranya selain kekayaan budaya jg karna kaya dgn tradisi.

    • ya itulah Indonesia, suatu Negara yang kaya akan Tradisi dan kebudayaan. Mulai dari budaya yang wajar sampai gak wajar, semua ada disini. dan justru itulah malah yang menambah khasanah ke Bhineka tunggal ika kita. 😀

  17. Wah bener tuh mas Huda, di Jogja apalagi bukan kepalang banyaknya acara seperti itu. Tradisi budaya yg dikait-kaitkan dengan syariat agama yg akhirnya diberi nama [secara paksa] Islam Kejawen. Padahal istilah agama tidak seorang pun yg berhak merubah-rubah dari apa yg sudah di ajarkan Nabi atau bahkan membuat-buat dengan istilah-istilah yg baru.
    Adapun masalah kegiatan budaya yg tidak masuk akal itu boleh-lah kita heran dan coba menelaah dengan logika, dan memang fenomena yg mas Huda alami itu bisa dikatakan tidak masuk akal. Namun, dalam memahami agama pun kita tidak dianjurkan untuk membawa akal, karna sesungguhnya akal manusia tidak akan mampu untuk menelaah setiap syariat, melainkan umat Muslim hanya diperintahkan untuk menjalankan syariat yg telah disampaikan dan diajarkan oleh Nabi. Walaupun memang kebanyakan syariat Islam masuk akal, tp pada beberapa diantaranya akal manusia tidak mampu untuk menelaahnya.. Wallahu a’alam

    • Wah….., dalam banget nih mas kalimatnya, saya za sampai membacanya berulang-ulang agar lebih paham dan mengerti, 😀
      intinya tu adalah asalkan budaya/tradisi itu masih dalam konteks masuk akal dan bisa dihubungkan dengan syariat tak apalah kita mengikutinya, begitu ya mas ??? 🙂

      • Hehehe, mungkin lebih amannya, Selama budaya/tradisi itu tidak menyalahgunakan syariat atau bertentangan dg syariat Insya Allah tak apa diikuti. Wallahu a’lam..

      • Semoga kita semua bisa melaksanakan hal semacam itu, demi pemurnian aqidah islam yang sebenarnya…, 😀

  18. Kalo tradisi untuk memeriahkan muharram asal tidak bertentangan dnegan syariah sih enggak apa2. Misal kayak tradisi makan ketupat dan slaaman di lebaran. Cuma jangan melakukan tradisi yg menjurus ke hal2 yg mewajibkan sesuatu atau melarang sesuatu padahal tidak diajarkan dalam agama..

    • Yaps….,setuju..!!!
      Asalakan tradisi tu ak bertentangan dengan syariat, kenapa nggak ???

  19. tumpengan…wah enak neh..iler w udah..mw nyantap tuh…

    • Monggo Silahkan, kalo mau disantap, hhe 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: